Alhamdulillah. It’s a very big thanks to Allah

Aku menjalani hidup dengan berat. Tentunya kalian bisa bayangkan bagaimana seorang tukang becak bisa memberi makan dan nafkah untuk istri dan kedua anaknya. Namun, seiring berjalannya waktu, ibuku yang seorang hafidzhoh selalu menasehati aku dan adik untuk selalu bersabar dalam kondisi apapun. Hingga akhirnya perjalananku sebagai seorang anak tukang becakpun berlanjut sampai aku SMA.
Masa SMA ku dipenuhi rasa kebimbangan. Aku selalu bertanya pada Allah. Apa bisa seorang anak tukang becak kuliah di perguruan tinggi dan bisa menggapai mimpinya?. Aku ragu, tapi aku ingin melanjutkan ke jenjang s1 demi menggapai cita-citaku menjadi seorang guru. Aku sangat suka Bahasa inggris dan matematika. Sehingga, impianku adalah menjadi guru dari salah satu mata pelajaran tersebut. Dan lagi, keuangan keluargaku membuatku ragu. Namun, ibu tak pernah berhenti untuk selalu mendukung dan memberi semangat padaku.
Kelas 12 SMA merupakan masa dimana aku mengenal bidikmisi. Aku merasa bahwa ada secerca harapan untuk menggapai mimpiku. Kemudian, guruku membantuku mendaftar SNMPTN. Namun, ada masalah dalam pendaftaranku. Pihak sekolah ternyata lupa untuk mendaftarkanku sebagai mahasiswa bidikmisi. Ibuku pun sangat bersedih. Bahkan ibu sampai berkata untuk lebih baik tidak diterima di SNMPTN. Dan Alhamdulillah. Doa ibu ku terkabul untuk tidak diterima. Aku kemudian mengurus pendaftaran untuk bidikmisi dan SBMPTN.
Ramadhan tahun 2015 menjadi saksi tangisan bahagia dikeluargaku saat aku dinyatakan diterima SBMPTN di Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Tidar. Alhamdulillah, Allah memberiku jalan untuk menuju impianku.
Dengan modal semangatku, aku berangkat dari rembang ke magelang untuk mulai mengurus segalanya. Namun, nasib berkata lain. Namaku tidak disebut dalam 100 mahasiswa penerima bidikmisi universitas tidar. Aku menangis dan segera menelefon ibu kalau mungkin aku lebih memilih untuk batal kuliah. Sore hari pada tanggal 17 Agustus 2015, aku pergi kebagian pengurus bidikmisi di Universitas Tidar. Aku protes kenapa anak tukang becak tidak diterima bidikmisinya. Dengan penuh permohonan akhirnya pihak kampus memberi lampu terang dengan mengatakan bahwa insyaallah akan ada penambahan kuota sebanyak 50-100 mahasiswa. Akupun cukup lega dan segera menelfon ibu. Ibu sangat bahagia dan secercah harapan kembali muncul.
Namun, perasaan sedih dan takut akan tidak diterima selalu menghantuiku. Akupun berjanji kepada ibu bahwa jika bidikmisi itu tidak bisa aku dapatkan, maka aku tidak jadi kuliah. Aku akan keluar. Dan, pada akhirnya Allah menjawab doa doa kami. Alhamdulillah, pada bulan oktober 2015 namaku disebut dalam mahasiswa penerima kuota bidikmisi tambahan. Aku sangat bahagia dan sontak kukecupkan dahiku ke bumi. Alhamdulillah. It’s a very big thanks to Allah. Sejak saat itu aku resmi menjadi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa bidikmisi.
Dengan bidikmisi ini, semakin besar rasa semangatku untuk kuliah. Aku kemudian memutuskan untuk ikut berorganisasi dalam PSM Grandio Sonora Tidar, English Department Student Association, BEM Fakultas, dan PMII. Dengan doa dan semangat yang tidak pernah putus aku juga bisa menjadi finalis mahasiswa berprestasi fakultas, pemakalah di seminar international, dan bahkan juga mengikuti kegiatan international teaching practice di Malaysia pada Juli 2018 kemarin. Semua yang aku lakukan dan dapatkan tidak lain dan tidak bukan adalah berkat adanya bidikmisi. Dengan bidikmisi, aku yang seorang anak tukang becak bisa menjadi sarjana dalam waktu 3.5 tahun. Alhamdulillah. Barakallah.
0 Comments